Rabu, 14 Mei 2008

SAHABAT SEJATI....., BIKIN PRESTASI

SAHABAT SEJATI.....,
BIKIN BERPRESTASI.......




Hidup sendirian pasti nggak enak. Punya masalah nggak ada tempat curhat, ada beban dipukul sendiri, punya berita gembira nggak bisa bagi-bagi. Iih..bete banget! Coba kalau ada sahabat, kesulitan nggak akan terlalu menyusahkan, kebahagiaan akan bertambah ketika ada yang ikut bahagia. Yuk, tengok kiri kanan, pasti ada seseorang yang bisa kita gaet untuk jadi sahabat!

Bersahabat, kudu!
Sudah takdirnya manusia Allah ciptakan sebagai makhluk sosial. Kita tidak mungkin hidup sendiri. Sahabat adalah contoh penting dalam rangka kebutuhan kita terhadap manusia lain. Kata ‘sahabat’ biasanya dikaitkan dengan rasa senasib sepenanggungan, keindahan, kebersamaan, dan saling mengisi. Hubungan seperti ini tentu saja tidak semudah membina hubungan sebatas pertemanan. Teman tentu saja bisa kita jumpai di manapun, tapi tidak dengan sahabat, karena sahabat tidak hanya ada ketika senang, tapi juga selalu siap ketika kita berada dalam kesulitan.
Kedudukan sahabat dalam Islam sangat penting. Rasulullah SAW saja semasa hidupnya hampir tidak pernah sendiri tanpa sahabat-sahabatnya. Sahabat beliau tidak satu, tapi semua asshabiqunal awwalun (generasi pertama yang masuk Islam) adalah sahabat beliau. Bisa kita bayangkan betapa Rasulullah SAW sangat piawai membina hubungan pertemanan sehingga bisa mencapai derajat persahabatan, yang tentunya tahap kasih sayang dan kecintaannya sering melebihi cinta pada diri sendiri. Hebatnya lagi, kondisi ini bukan hanya beliau sendiri yang merasakan, tapi seluruh sahabatnya juga merasakan kondisi persahabatan yang luar biasa menggetarkan dengan sahabat yang lainnya. Tengok saja Abu Darda yang kaya rela memberi salah seorang istri dan setengah hartanya untuk Abdurrahman bin Auf, atau Ali bin Abi Thalib yang rela dianiaya kaum kafir Quraisy ketika menggantikan Rasulullah hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar.
Islam merangkum keindahan persahabatan dalam konsep ukhuwah Islamiyah, yang mengedepankan sikap tafahum (saling memahami), ta’awun (saling tolong menolong), dan takaful (saling bela). Inilah basis penting yang Rasulullah SAW bangun sehingga kaum muslimin mampu menghancurkan kaum kafir di semenanjung Arabia sampai negara adidaya masa itu yaitu Persia dan Romawi.

Sesama Jenis OK, Lawan Jenis Nggak OK?
Untuk bisa mencapai tahap persahabatan membutuhkan waktu dan proses. Sikap tafahum, ta’awun dan takaful yang paling urgen dalam persahabatan bisa muncul setelah beberapa lama kita ta’aruf (saling kenal) dengan calon sahabat kita.
Kebutuhan akan persahabatan biasanya lebih dominan ada pada perempuan. Perempuan kental sekali dengan gelombang emosionalnya, sehingga ia cenderung butuh tempat untuk berbagi perasaan dan kasih sayang. Makanya nggak aneh kalau mereka mampu mengungkapkan masalah yang paling pribadi sama seseorang yang banyak kesamaan dengannya. Beda sama kaum pria, persahabatan tidak terlalu mengedepankan perasaan, sehingga kalau di antara mereka ada perbedaan prinsip atau pendapat nggak bikin persahabatan mereka putus. Asal ada kesamaan minat dan aktivitas, persahabatan mereka bisa lancar-lancar aja. Nah, jika maksain terjadinya persahabatan antara laki-laki dan perempuan biasanya nggak bakal bertahan lama. Timbulnya perasaan lain seperti cinta, cemburu dan takut kehilangan seringkali merusak persahabatan.

Berani Menerima Perubahan
Kalau kita mengartikan sebuah persahabatan adalah keakraban yang nggak akan berubah oleh kondisi apapun, tentu saja salah banget. Hidup ini penuh dengan kejutan dan perubahan. Terjadinya perubahan status, tempat, pendidikan, pekerjaan dan aktivitas kalau tidak diiringi dengan sikap lapang dada bisa menggoyahkan persahabatan.
Seorang teman Nida pernah mengungkapkan kekecewaannya ketika ia merasa ‘ditinggal’ oleh sahabatnya yang belum lama menikah. Teman Nida yang lain merasa semakin jauh dengan sahabatnya ketika sang sahabat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, sedang ia memilih bekerja di sebuah pabrik elektronik.
Sebagai sahabat yang baik, tentu saja perubahan ke arah perbaikan yang dialami oleh sahabat kita nggak boleh bikin kita sakit hati dan kecewa. Setiap perubahan baru yang dialami seseorang pasti membutuhkan waktu untuk diadaptasi, dan itu bisa terjadi pada kita. Lapang dada aja deh untuk beberapa waktu. Suatu saat sahabat yang kayaknya mulai jauh dan ninggalin kita pasti akan rindu dan kembali pada kita.
Yang paling penting harus kita ingat adalah perintah Allah untuk senantiasa bersabar dengan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah, dan jangan berpaling dari mereka hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dunia (QS. Al Kahfi:28).

Sudahkah jadi Sahabat Sejati?
Dalam ayat di atas Allah juga mengingatkan kita untuk tidak menjadikan sahabat orang-orang yang hatinya lalai, suka menuruti hawa nafsu dan kalakuannya sering melampaui batas. Tahu sendirikan, setiap perilaku buruk itu pasti menular, begitu juga kebaikan. Seperti kata Rasulullah SAW "Seseorang itu menurut agama (aturan) temannya, maka telitilah lebih dulu orang yang akan menjadi temanmu”
Sahabat sejati bukanlah seseorang yang manis di mulut dan membujuk pada hal-hal negatif. Orang bijak mengatakan sahabat sejati adalah teman yang mendengar dan mengerti ketika kita mengungkapkan perasaan yang paling dalam. Ia memberikan dukungan ketika kita sedang berjuang. Ia tidak melihat dari fisik dan kekayaan kita. Ia mengoreksi kita dengan lembut dan sayang ketika kita berbuat salah, dan ia memaafkan ketika kita gagal. Seorang teman sejati mendorong dan memacu potensi kita untuk mengembangkan pribadi secara maksimum. Dan yang paling menakjubkan, ia merayakan keberhasilan kita seolah-olah itu keberhasilannya sendiri. Kalau belum punya sahabat seperti ini, berdoalah agar Allah menganugrahkannya untuk kita
Cobalah objektif terhadap diri sendiri, apakah kita sudah termasuk sahabat sejati bagi sahabat kita? Kalau belum masih ada kesempatan untuk memurnikan persahabatanmu. Lalu sudahkah sahabatmu menjadi sahabat sejati bagimu? Kalau sudah bersyukurlah karena itu anugrah Allah yang tak terhingga. Tapi kalau tidak, kamu bisa mendorongnya untuk menjadi sahabat terbaik. Trus, kalau ia masih sering mencoba menularkan sifat buruknya padamu, bersikaplah tegas untuk tidak menjadikannya sahabat terdekat. Karena seorang sahabat tidak menambah keburukan pada sahabatnya, tapi kebaikan semata.



Sahabat Dunia Akhirat
Ketika bersahabat, tentu kita ingin agar persahabatan itu langgeng sampai akhir hayat. Tapi sekarang jarang terjadi suatu persahabatan bisa bertahan sampai kakek nenek, yang banyak tentu saja pada masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Persahabatan Rasulullah SAW dan para sahabatnya bagus banget untuk kita contoh. Persahabatan mereka bukan hanya persahabatan di dunia, tapi juga berorientasi akhirat. Dalam kebaikan yang mereka persembahkan untuk sahabat tercinta, mereka ingin hanya Allah lah yang tahu perbutan baik mereka, bukan sahabatnya. Sehingga ketika sang sahabat tidak mengingat kebaikan tersebut, mereka bahagia bahwa Allah sudah mencatatnya. “Sebenarnya bukan sahabatmu, kecuali yang bersahabat kepadamu, setelah ia mengetahui benar-benar kejelekanmu, dan tiada yang demikian kecuali Tuhanmu Yang Maha Mengetahui. Sebaik-baik sahabatmu ialah yang selalu memperhatikan kepentinganmu, bukan karena suatu kepentingan yang diharap daripadamu untuk dirinya” (Al Hikam, 146).
Sikap ini semakin menambah cinta antara mereka walaupun sudah terpisah jauh, sehingga Rasulullah SAW mengatakan bahwa kelak di akhirat mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya. “Seseorang akan berkumpul dengan siapa yang dicintainya (walaupun nanti di akhirat)” (HR. Bukhari Muslim).
Maka mencintailah karena Allah, dan cintailah orang-orang yang mencintai Allah dan RasulNya, supaya kita bisa berkumpul dengan mereka di Syurga. Bukan mencintai orang-orang yang zhalim, sehingga berkumpulnya malah di neraka. Na’udzubillah.

Tidak ada komentar: